vitamin e

Vitamin E mungkin salah satu satu jenis vitamin yang paling unik karena terdiri dari 10 jenis molekul dengan aktifitas vitamin yang kemudian dikenal sebagai vitamin E pada tahun 1936. Pada awalnya vitamin E yang masih belum dikenali secara tepat telah dipergunakan dalam terapi pengobatan terhadap kemandulan dan gangguan regenerasi manusia lainnya. Sejak itu penelitian vitamin E terus berkembang dan ditemukan berbagai fungsi lainnya bagi tubuh sehingga vitamin E dikenal juga sebagai vitamin yang serba guna meski tocopherol (nama lain yang umum dikenal sebagai vitamin E) sendiri sudah terlanjur memiliki arti dalam bahasa Yunani ‘membawa kelahiran’ sebagai penggambaran fungsinya yang dikenal pertama kali.

Vitamin E adalah jenis vitamin yang tidak larut dalam air dan hanya bisa dilarutkan dalam pelarut lemak seperti minyak, lemak, alkohol, eter dan aseton. Hanya organ empedu hati saja yang secara alami di dalam tubuh manusia yang bisa memproses vitamin E. Berlebihan asupan dosis vitamin E sangat tidak disarankan dan bisa membahayakan kesehatan karena vitamin E tidak mudah dibuang oleh tubuh melalui proses pembuangan. Ambang batas maksimum asupan vitamin E dalam sehari adalah 1000 mg adalah angka maksimal yang disarankan di dunia medis. Sesungguhnya, besaran 30-50 mg per hari sudah sangat mencukupi kebutuhan normal manusia akan vitamin E atau tocopherol ini.

Dari 10 jenis bentuk vitamin E, tergolong menjadi 2 varian yaitu tocopherol dan tocotrienol yang masing-masing memiliki 5 bentuk turunan. Masing-masing bentuk memiliki peranan yang berbeda satu sama lain. Tocopherol yang menjadi mayoritas bentuk vitamin E yang kita kenal, berfungsi utama sebagai anti oksidan yang melindungi lapisan membran sel dalam terhadap radikal bebas yang menginfiltrasi tubuh manusia, sedangkan tocotrienol lebih berfungsi sebagai pemelihara neuron saraf dan mengurangi tingkat kolestrol tubuh selain juga sebagai anti oksidan.

Sumber Vitamin E

Dengan ditemukannya fungsi lain dari vitamin E, terutama pada kesehatan kulit, mulailah dikembangkan penelitian berbagai ragam bahan makanan alami yang kemudian kita kenal sebagai sumber-sumber vitamin E. Banyak pola diet normal yang sudah memiliki kecukupan vitamin E, hanya saja pengolahan bahan makanan tersebut perlu mendapat perhatian agar kandungan vitamin E sendiri tidak rusak.

Vitamin E tahan pada suhu tinggi, namun suhu yang terlalu tinggi akan merusaknya. Begitu juga dengan kandungan asam tidak berpengaruh kepada vitamin E kecuali di suhu diatas 100 derajat Celcius. Tocopherol secara alami bersifat basa bila tidak bereaksi dengan kandungan oksigen. Sentuhan langsung dengan oksigen akan mengakibatkan reaksi oksidasi yang dapat mengubah warna bahan makanan yang mengandung vitamin E.

Berikut ini sumber-sumber vitamin E yang tergolong baik dan mudah kita temui sehari-hari :

  • Kecambah seperti tauge
  • Talas
  • Minyak zaitun
  • Daun kemangi
  • Brokoli
  • Paprika ( terutama yang berwarna merah )
  • Cabai merah
  • Kacang tanah
  • Bayam
  • Sayur sawi
  • Biji bunga matahari
  • Kacang tanah
  • Produk-produk cereal dari bahan gandum
  • Susu kedelai / Tempe / Tahu ( olahan dari kacang kedelai )
  • Jagung

Manfaat Vitamin E

Sebagai anti oksidan, vitamin E berperan aktif mencegah pertumbuhan radikal bebas pada jaringan halus dengan cara mengikat radikal bebas tersebut dan membentuk tocopheril radikal yang kemudian akan di serap oleh molekul yang kaya kandungan hidrogen, seperti vitamin C, sehingga berada dalam bentuk yang kurang membahayakan tubuh. Vitamin E juga berguna dalam berbagai operasi penyambungan sendi siku dan dengkul karena membantu mencegah oksidasi pada bagian operasi tersebut yang bisa menggangu proses penyambungan kembali.

Vitamin E juga bertugas sebagai enzim regulator dimana tocopherol memiliki efek stimulasi terhadap dephosphorylation enzim dan protein fosfat yang kemudian memisahkan enzim-enzim tersebut dari grup molekul fosfat dan mengnon-aktifkan enzim tersebut dalam proses pengembangan sel otot yang sehat.

Selain itu, vitamin E juga bermanfaat sebagai pengatur gen-gen terutama gen yang memiliki bentuk LDL atau Low Density Protein dan saling mengikat. Digambarkan bahwa gen-gen tersebut berperan aktif dalam proses penyembuhan luka dan proses regenerasi lapisan sel-sel luar. Juga dalam susunan sel saraf, vitamin E ditemukan berperan aktif. Vitamin E juga dikenal sebagai pelindung bagi lapisan lemak tubuh agar tidak teroksidasi dan menjadi rusak.

Kekurangan vitamin E

Sejak usia dini, manusia membutuhkan vitamin E. Asupan bagi bayi biasa diberikan melalui ASI dan ini secara normal sudah mencukupi, namun apabila terjadi defisiensi vitamin E karena satu atau lain sebab, bayi tersebut bisa mengalami gangguan penyerapan lemak yang pada ujungnya menyebabkan lemahnya kondisi bayi ditambah kondisi yang kekurangan gizi dan memperbesar resiko kematian bayi yang terlahir prematur.

Umumnya, pola diet dewasa normal sudah mencukupi kebutuhan vitamin E. Hanya saja bagi orang-orang yang mendapatkan diet yang buruk dalam jangka waktu panjang bisa memiliki beberapa gangguan kesehatan atau gejala sebagai berikut :

  • Rasa nyeri berkepanjangan pada otot
  • Kesulitan berjalan
  • Degeneratif sistem saraf serta otot
  • Daya penglihatan yang menurun
  • Mengalami kekurangan darah
  • Kulit kusam kering dan bertitik-titik

Kesulitan mendapatkan keturunan juga menjadi dampak negatif kekurangan vitamin E meski belakangan beberapa penelitian mencoba membantah kesimpulan tersebut. Pihak penentang berargumentasi bahwa berbagai faktor genetika lebih menentukan daripada kasus defisiensi vitamin E dalam hubungannya dengan proses pembuahan. Kemampuan menghasilkan sperma dari pria yang mendapatkan suplai vitamin E secara rutin juga tidak menunjukan hasil yang signifikan. Hal ini jelas bertentangan dengan hasil-hasil penelitian jauh sebelumnya.

Keracunan Vitamin E

Tocopherol dapat digolongkan sebagai anti coagulant (anti pembekuan darah) yang menyebabkan resiko pendarahan dimana apabila tubuh memiliki kadar vitamin E terlalu tinggi, saat terjadi pendarahan akan sulit berhenti. Resiko lain untuk hipervitaminosis atau over dosis vitamin E berhubungan dengan interaksinya dengan vitamin K yang bisa menyebabkan tubuh kekurangan vitamin K. Bagi penderita yang sedang menjalani pengobatan dengan aspirin, kondisi hipervitaminosis sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.

Selain beberapa dampak yang bisa merugikan dari berlebihnya kadar vitamin E dalam tubuh, secara umum vitamin E digolongkan aman. Selalu disarankan untuk menjaga kadar vitamin E pada ambang yang disarankan oleh medis.


Vitamin E yang mudah kita temui dalam berbagai bahan makanan alami yang biasa sedikit berminyak seperti kacang-kacangan memiliki berbagai manfaat vitamin E terutama pada kesehatan kulit dan proses reproduksi manusia. Berbagai sumber-sumber vitamin E yang kita makan atau minum sehari-hari bisa mencegah kita dari resiko gangguan kesehatan akibat kekurangan vitamin E. Bagi individu yang membutuhkan suplemen vitamin E dalam berbagai bentuk, perhatikan dan selalu mengikuti arahan tenaga ahli medis untuk dosis takaran yang tepat sehingga bisa terhindar dari dampak keracunan vitamin E yang merugikan.
Penulis : HEF (dari berbagai sumber)




Comments

comments