daun kemangi untuk herbal

Secara umum herbal dapat diartikan sebagai tanaman yang digunakan untuk penyedap, makanan, obat-obatan, parfum dan kegiatan spiritual. Dalam makanan sehari-hari herbal yang digunakan adalah seperti daun kemangi dan daun bawang. Herbal untuk obat seperti jamu-jamuan. Sedangkan untuk kegiatan spiritual seperti kunyit dalam tradisi hindu. Sedangkan herbal yang digunakan untuk parfum biasanya jenis bunga-bungaan.

Saat ini herbal mengalami penyempitan makna sehingga herbal sering diasosiasikan dengan obat dan suplemen herbal. Obat herbal mulai populer dengan adanya kampanye “back to nature” yang dipercaya lebih menyehatkan dan ramah lingkungan. Obat herbal atau herbalisme adalah penggunaan tanaman untuk tujuan pengobatan. Bagian tanaman yang dapat digunakan untuk obat dan suplemen adalah daun, akar, bunga, biji, resin, kulit akar, kulit kayu bagian dalam (kambium), buah dan kadang-kadang pericarp atau bagian lain dari tanaman. Namun, bahan yang digunakan untuk obat herbal juga lebih luas sekarang karena terkadang juga menggunakan jamur, madu, kerang, dan bagian binatang lain. Contoh obat herbal yang populer di indonesia adalah jamu. Namun obat herbal ternyata tidak sebatas jamu saja karena bentuknya banyak ada pil, tablet, pastiles, cairan, minuman, teh, tanaman kering dan sebagainya.

Jenis Obat Herbal

Badan POM telah membagi obat herbal atau tradisional menjadi tiga jenis, yaitu:

  1. Jamu
    Karena obat tradisional merupakan produk yang dibuat dari bahan alam yang jenis dan sifat kandungannya sangat beragam, maka untuk menjamin mutu obat tradisional diperlukan cara pembuatan yang baik dengan lebih memperhatikan proses produksi dan penanganan bahan baku. Untuk itu pihak BPOM telah mengeluarkan standar produksi obat tradisional yang dikenal dengan CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik).
  2. Obat Herbal Terstandar
    Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi. Jadi pada tahap ini obat herbal tersebut selain telah distandarisasi bahan baku dan proses produksinya juga harus melalui proses pengujian di laboratorium yang meliputi uji khasiat dan uji keamanan. Uji khasiat dilakukan terhadap hewan uji yang secara fisiologi dan anatomi dianggap hampir sama dengan manusia, sedangkan uji keamanan dilakukan untuk mengetahui apakah bahan tersebut membahayakan atau tidak. Uji keamanan yang dilakukan berupa uji toksisitas akut, uji toksisitas subkronis atau bila diperlukan uji toksisitas kronis. Dari hasil pengujian praklinik tersebut akan dapat diketahui mengenai khasiat bahan tersebut, dosis yang tepat untuk terapi, keamanan dan bahkan efek samping yang mungkin timbul.
  3. Fitofarmaka
    Fitofarmaka merupakan standar yang lebih tinggi lagi terhadap obat herbal. Fitofarmaka sendiri adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. Jadi selain obat telah melalui proses standarisasi produksi dan bahan baku, kemudian melakukan uji praklinik di laboratorium, maka selanjutnya obat dilakukan uji coba kepada manusia (uji klinik) untuk mengetahui khasiatnya terhadap orang sakit ataupun orang sehat sebagai pembanding. Tahapan ini yang biasanya memerlukan waktu yang lama dan biaya yang mahal karena melibatkan orang banyak. Setelah lolos uji klinik maka obat herbal tersebut telah memiliki evidance based herbal medicine yang artinya telah memiliki bukti medis terhadap khasiat dan keamanannya bagi manusia. Di Indonesia sendiri saat ini telah ada beberapa jenis obat herbal yang telah masuk dalam golongan fitofarmaka dan bahkan telah diresepkan penggunaannya oleh dokter.

Penggunaan obat herbal juga relatif luas. WHO mengestimasikan bahwa sekitar 80% orang Asia menggunakan obat herbal. Hal itu dikarenakan obat herbal bisa didapat dengan harga yang murah bahkan gratis cocok dengan kebanyakan orang asia yang pendapatannya relatif rendah. Obat herbal digunakan untuk mengobati berbagai kondisi, seperti asma, eksim, sindrom pramenstruasi, rheumatoid arthritis, migrain, gejala menopause, kelelahan kronis, sindrom iritasi usus, kanker, dan lainnya. Suplemen herbal yang terbaik diambil di bawah bimbingan seorang dokter terlatih. Sebagai contoh, satu studi menemukan bahwa 90% pasien rematik menggunakan terapi alternatif, seperti obat-obatan herbal.

Walaupun obat herbal dibuat dari bahan-bahan alami, namun ada beberapa hal yang mesti anda perhatikan. Obat herbal dapat membantu mengobati berbagai kondisi, dan dalam beberapa kasus, mungkin memiliki efek samping yang lebih sedikit daripada beberapa obat konvensional. Tetapi karena mereka tidak diatur, produk herbal sering disalahartikan dan mungkin mengandung aditif dan kontaminan yang tidak tercantum pada label. Beberapa tumbuhan dapat menyebabkan reaksi alergi atau berinteraksi dengan obat konvensional, dan beberapa beracun jika digunakan secara tidak benar atau pada dosis tinggi, sehingga sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker sebelum mengkonsumsi obat-obatan herbal. Penyedia layanan kesehatan harus mempertimbangkan banyak faktor ketika merekomendasikan herbal, termasuk spesies dan berbagai tanaman, habitat, bagaimana itu disimpan dan diproses, dan apakah atau tidak ada kontaminan (termasuk logam berat dan pestisida).


Incoming search terms:

  • pengertian herbal
  • pengertian obat herbal

Comments

comments